Contoh Resensi Buku Non Fiksi Pengetahuan

Contoh Resensi Buku Non Fiksi Pengetahuan di Ruangbaca.id. Artikel tayang Maret 04, 2019 Dipost oleh Yoga Pratama in Resensi Novel.

contoh resensi buku non fiksi pengetahuan
contoh resensi buku non fiksi pengetahuan

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

Ruangbaca.id – Contoh Resensi Buku Non Fiksi Pengetahuan. Berikut ini adalah salah satu contoh resensi buku yang dikirimkan ke media cetak dan terpublis di koran.

Contoh ini ditulis oleh Moh. Nizar, salah satu dosen di Perguruan Tinggi di Lampung. Dan resensi buku ini telah dipublish di Lampung Post pada 2016 silam.

Resensi ini merupakan salah satu contoh yang bisa kita pelajari untuk mengetahui bagaimana cara membuat resensi buku yang baik dan benar, serta yang layak diterbitkan di media cetak, ataupun media lainnya.

Dan sebenarnya contoh resensi buku non fiksi pengetahuan ini tidaklah jauh berbeda seperti contoh resensi cerpen lainnya yang sudah pernah dibuat banyak orang.

Hanya saja apakah contoh resensi buku non fiksi terbaik ini juga telah dipelajari oleh banyak orang. Jika belum berikut cara membuat resensi buku dan contohnya:

Contoh Resensi Buku Non Fiksi

Berikut ini adalah resensi yang telah ditulis Moh. Nizar. Ia beri judul pada resensinya: Politik Bangsa Malaysia.Berikut kelengkapan informasi buku yang diresensi.

Judul Buku   : Politik Bangsa Malaysia Pembangunan Bangsa Masyarakat Majemuk

Penulis          : Mohamed Mustafa Ishak

Penerbit         : Progressio

Cetakan         : 2016

Tebal Buku   : vii + 358 hlm

Resensi Buku Politik Bangsa Malaysia

Pasca tragedi huru-hara1 Mei 1969, pemerintah Malaysia akhirnya membentuk undang-undang bahwa hanya Melayu-muslim yang berhak mendapatkan keistimewaan (privileges) dari negara sebagai Bumiputra.

Alhasil, orang-orang Melayu mulai menguasai sektor-sektor bisnis dan posisi strategis di pemerintahan. Sementara etnik China dan India menjadi warga negara kelas dua.

Ribuan anak muda Melayu diberi kemudahan belajar ke luar negeri melaui peningkatan kuota beasiswa. Di dalam negeri, beberapa  perguruan tinggi dididirikan tuk memenuhi kebutuhan jenjang pendidikan tinggi bangsa Melayu.

Meskipun kebijakan tersebut dianggap apartheidnamun sebagaimana dikatakan Mahatir Mohamad dalamThe Malay Dilemma (1970) bahwa bangsa Melayu adalah orang asli Pribumi yang berhak mengklaim Malaysia.

Orang Melayu ditakdirkan sebagai pewaris tanah Malaysia. Sedangkan para imigran adalah tamu sebelum mereka benar-benar bisa menyerap budaya pribumi—tidak boleh menjadi bagian dari ras lain.

Melalui kebijakan Dasar Ekonomi Baru (DEB) yang berpihak pada orang Melayu membuat lanskap sosial-ekonomi masyarakat Malaysiapun berubah drastis.

Ribuan anak-anak Melayu dari keluarga petani, nelayan, penyadap karet, guru, tentara, polisi, aparatus sipil dan lainnya menjadi kelas menengah baru atau kapitalis baru(Halm. 120-121).

Sebaliknya, etnik non-Bumiputera sejak saat itu mengalami keprihatinan sebab dianggap orang luar.

Persoalan berikutnya, Kebijakan Kebudayaan Nasional Malasyia adalah menjadikan budaya Melayu dan Islam sebagai identitas nasional.

Kebijakan ini mengabaikan aspek keragamaanbudaya karena hanya Islam sebagai agama nasional dan Bahasa Malaysia sebagai bahasa nasional.

Konsekuensinya, etnik non-Melayu kalau ingin menjadi warga asli Malaysia harus menghilangkan identitas keetnikannya.

Artinya, jika orang-orang China ingin menjadi Bumiputera suka tidak suka harus mengurangi kecinaannya. Begitu juga etnik India harus menanggalkan keindiannya.

Namun, kedua komponen tersebut sulit diterima sebabmerekamemiliki warisan kultural yang sama kuatnya.

Buku berjudul “Politik Bangsa Malaysia: Pembangunan Bangsa Masyarakat Majemuk” memaparkanbetapa peliknya hubungan antaretnik dan pembangunan bangsa di Malaysia.

Secara historis, persoalan pembangungan bangsa di Malaysia merupakan dampak kebijakan kolonialisme Inggris yang membawa komunitas non-Melayu, China dan India, tuk memenuhi kebutuhan pekerjaandi sektor pertambangan timah, perkebunan karet, pusat-pusat komersial pelabuhan perdagangan, dan lain-lain.

Akibat imigrasi besar-besaran dari kedua etnik tersebut mengacu hasil sensus tahun 1931 jumlah orang-orang Melayuberada di bawah imigran.

Menyadari kondisi demikiankaum terpelajar Melayu panik sehinggamendoronglahirnya nasionaliolisme Melayu (Halm. 61).

Pada titik inilah menurut Mohamed Mustafa Ishak sebagai akar persoalan sosial pertarungan ideologi Bumiputera dan non-Bumiputera yang dimulai sejak akhir abad ke-19.

Nasionalisme Melayu

Kehidupan politik orang Melayu menurut Ishak sebelum kemerdekaan tidak familiar dengan konsep negara meskipun istilah “negeri Melayu”tidak asing bagi mereka.

Dalam pikiran mayoritas orang-orang Melayu ketika itu, pengertian Melayu mengacu pada kerangka “kerajaan”.

Dengan kata lain, orang-orang Melayu tidak memahami bahwa mereka hidup dalam dalam “negara” melainkan di bawah individu “Raja.”

Orang Melayu memiliki kesamaan budaya dan sejarah, negeri dan kerajaan sebagai kesatuan teritori, ekonomi agrikultur, tugas politik dan hukum Sultan dan Kerajaan (146). Itulah mengapa budaya politik parokial atau kesetiaan primordial pada negeri asal kerajaan kuat di Malaysia.

Dalam konteks di atas, kebangkitan nasionalisme Melayu muncul karena krisis identitas akibat penjajahan Inggris dan imigrasi China dan India.

Kemunculkan kesadaran kolektif tuk mengembalikan Bangsa Melayu menjadi bangsa berdaulat melawan penjajahan dan ancaman peminggiran dari komunitas imigran menemukan momentumnya di tahun 1930-an.

Meskipun begitu, gagasan konsep Bangsa Melayu tidak pernah terealisasikan. Kegagalan ini setidaknya oleh dua faktor.

Pertama, di kalangan gerakan nasionalis Melayu terjadi fragmentasi antara kelompok Melayu Kiri yang anti kerajaan dengan kelompok konservatif yang memegang teguh institusi kemelayuan.

Kedua,Pemerintahan kolonial dalam sensus tahun 1947 tetap mengkelompokkan orang Melayu sebagai komunitas etnik, seperti China dan India.

Pengelompokkan ini terus digunakan hingga saat ini, tapi orang Melayu tetap menganggap diri merekasebagai bangsa.

Sekilas, meskipun pengertian etnisitas dan kebangsaan di level akademik masih tumpeng-tindih namun perbedaan antara keduanya memiliki konsekuensi politik yang berbedadi Malaysia.

Inilah yang menjadi persoalan bangsa Malaysia sebagai masyarakat majemuk.

Maka Mahathir melalui gagasan Bangsa Malaysia pada Visi 2020 yang dicanangkan tahun 1991 mencoba mendamaikan permasalahan etnisitas dan nasionalismeke dalam persatuan bangsa Malaysia sebagai mozaik dari kebudayaan yang berbeda-beda tuk menciptakan identitas nasional yang terdiri atas berbagai etnik.

Namun, melihat realitas politik Malaysia hingga saat ini masih belum nampak kemajuannya mengingat pengelompokan etnisitas terlembagakuat dalam sistem politik Malaysia.

Buku ini menarik dibaca sebagai suatu perspektif alternatif memahami hubungan etnis dan pembangunan bangsa di Malaysia, sehingga dapat memperjelas gambaran politik dan masyarakat Malaysia sebagai negara tetatangga. (Lampung Post, Jumat 16 Desember 2016).

Baca : Contoh Cerpen Tentang Ibu Penuh Kasih Sayang Pada Anaknya

Nah itulah contoh resensi buku non fiksi ilmu pengetahuan yang bisa kita pelajari. Semoga informasi ini bermanfaat untuk kita semua. Sekian informasi dari tim Ruangbaca.id, terimakasih, salam.

One Response for Contoh Resensi Buku Non Fiksi Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *