Contoh Puisi Kritik : Sosial, Politik, Pemerintah & Korupsi

Contoh Puisi Kritik : Sosial, Politik, Pemerintah & Korupsi di Ruangbaca.id. Artikel tayang Desember 26, 2019 Dipost oleh admin in Puisi.

Contoh Puisi Kritik
Contoh Puisi Kritik

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

Ruangbaca.id – Berikut ini adalah contoh contoh puisi kritik yang bisa kita coba ketahui hasil karya Fahmi Ali Firdaus. Fahmi merupakan seorang pelajar SMA Modern Al-Rifai’ie Malang jurusan MIPA yang berasal dari Pamekasan, Madura.

Contoh puisi kritik ini ditulis Fahmi dengan berbagai judul. Dari kritik untuk negeri, kritik sosial, kemanusiaan dan lainnya.

Contoh Puisi Kritik

Contoh Puisi Kritik
Contoh Puisi Kritik Karya Fahmi Ali Firdaus

Ini adalah contoh contoh puisi kritik yang dibuat oleh Fahmi Ali Firdaus…

ILUSI NEGERI

Meraksasa di bumi Batavia

Retak, hancur seluruh angsana

Melankolis raut hati, matawarga

Menjejakhitam di putih Gedung pemimpin

Mengilusi otak awam di atas kursi dingin

Terbuat paradoks yang tak terjamah

Drama selalu terarah

Seakan hiasan, rakyat macam pandan

Membuat wangi merdeka tanpa peradilan

Tak tahu apa mereka dikata

Semua terlalu pralogis

Hingga dianggap logis

Semua kejanggalan tak mereka gubris

Hingga merdeka kau melit menjarak negeri

Semua untuk kepentingan diri

Hanya duduk uang sudah berlari

Dari pemuda untuk negeri

Akankah kita hanya berdiam diri?

SI MISKIN DAN SI KAYA

Menggelora di papah ranum jiwa

Terbesit rendah karna tingkat kasta

Dirujuk sebuah arogan kata

Hingga lunglai menimpuk raga

Atas hanya sebuah kemewahan

Berlagu ideologi kesombongan

Menjarak kami yang buta rupa berlian

Macam hanya membabu hewan

Ah…sungguh indahnya negeri ini

Di rajut harta tak pakai hati

Dia bebas merangkai tali

Sampai bisa membeli harga diri

Diri kami di mata sang kaya

Tak lebih bagai coretan tinta

Kami ini sedang hidup

Ataukah hanya bertahan hidup

Diselimuti kepahitan sosial

Kami juga manusia berakal

Bukan hidup, bertahan hidup

Kami juga ingin ketenangan hidup

Inilah si miskin dan si kaya

Berkuasa karena kasta harta

OCEHAN TETANGGA

Di runtuh argumen yang rapuh

Menggejolak sampai gaduh

Menenteng sambaran di lisan

Melumerkan jika ada kejanggalan

Di sambi riang bercengkrama

Membeli sayur di mamang bersepeda

Terbuah halus kadang kasar

Berbicara tetangga yang sedang mekar

Seakan salah ia membawa berkah

Di keluarga di sanjung dengan ramah

Di samping rumah jadi topik indah

Mengajak anggota agar lebih meriah

Tak pernah di pandang apa dan gimana

Kesimpulan mereka ambil dengan mata

Di hiperbolis agar semua menatap sinis

Luapan ocehan yang tak kunjung habis

Haruskah ini ikatan sosial yang terjadi

Habis samping, depan silih berganti

Semua topik tak pernah menyanjung

Seakan se-kompleks saling beratarung

MENTERIKU PAHLAWANKU

Koalisi terombak tanpa arti

Menghanyutkan sejarah yang telah disaksi

Siksa otak tak mengerti

Apa yang telah terjadi

Negeri satu banyak nalar

Di gerakkan orang yang masih segar

Tenggelamkan orang kinerja hebat

Laksana rokok yang habis di sebat

Di saksi jutaan jiwa

Menggaris bahagia atas lelah usaha

Menteri sejuta aksi

Tersingkir oleh orang berpolitisi

Perombakan kencang dikemukakan

Sistem baru direncanakan

Entah itu fiksi atau kenyataan

Rakyat hanya tersenyum merasakan

Nafas lama di telantarkan

Meski tak sedikit berkorban

Sekarang pada mereka kuharapkan

Menteri ku pahlawan

NOMINAL DAN SERAGAM

Jejak membekas di pangkat

Dilindungi pakaian abu-abu pekat

Menyongsong amanah berat

Delegasi titisan rakyat

Menyatu dengan rambu jalan

Menindak sebagian kejahatan

Rekah menimbang arah

Keteguhan iman semakin goyah

Melepas peluh di jalan raya

Di tebas semua onar di peraturannya

Hilang akal jika sudah bermain nominal

Semua urusan terbuka lebar

Apa jadinya bangsa kita

Jika semua urusan bisa di harga

Pangkat hanya jadi akrobat

Seragam hanya jadi alasan membabat

Aku tertawa melihat keadilan di buai harta

Semoga seluruh angsana bangsa

Sadar akan kelakuannya

Lagi-lagi karena kasta harta.

KURIR MERDEKA

Proklamasi telah larut puluhan tahun

Tetesan darah tak sungkan turun

Peluru bagai nyanyian mengalun

Hidup ringkih ratusan tahun

Merdeka telah tertanam di haribaan jiwa

Di laksana oleh pejuang tak kenal masa

Merdeka! Sekarang!

Kemewahan berada di tangan perasa

Yang Tak pernah meneteskan darah

Walau seujung anak panah

Pahlawan di lupakan

Berjuang keras hanya untuk satu suapan

Negeri mendanai berprestasi

Bangga atas apa yang dimenangi

Namun, entah apa yang di pikir

Pembawa merdeka hanya di anggap kurir

Memang mereka tanpa tanda jasa

Tapi setidaknya kita menganggapnya ada

BIODATA PENULIS PUISI KRITIK

Remaja yang berasal dari Pamekasan, Madura ini memiliki nama lengkap Fahmi Ali Firdaus. Ia lebih dikenal dengan panggilan Fahmi oleh teman-temannya.

Sejak duduk dibangku sekolah dasar, ia telah memiliki minat pada bidang tulis-menulis. Sudah banyak karya yang ia buat, dan kini ia berminat untuk memuatnya di surat kabar.

Anak yang lahir pada tanggal 27 Maret 2004 ini sedang duduk dibangku SMA Modern Al-Rifai’ie Malang jurusan MIPA.

Selama di sekolah ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan, salah satunya ialah tergabung sebagai anggota PASKIBRAKA dan OSIS-MPK angatan 2019/2020.

Nomor Telepon Fahmi Ali Firdaus (082302535774/082332967357).

Selain contoh contoh puisi di atas, baca juga beberapa karya sastra lainnya yang bisa dinikmati, berikut karyanya:

  1. Contoh Cerpen Pendidikan Singkat dan Menarik
  2. Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu Yang Mengharukan
  3. Contoh Cerpen Tentang Ibu Penuh Kasih Sayang Pada Anaknya

Itulah beberapa hal yang bisa kita ketahui. Semoga puisi dan semua yang ditulis di Ruangbaca.id ini bermanfaat untuk kita semua. Sekian yang bisa disampaikan. Terimakasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *