Contoh Cerpen Tentang Ibu Penuh Kasih Sayang Pada Anaknya

Contoh Cerpen Tentang Ibu Penuh Kasih Sayang Pada Anaknya di Ruangbaca.id. Artikel tayang Maret 03, 2019 Dipost oleh Yoga Pratama in Cerpen.

contoh cerpen tentang ibu
contoh cerpen tentang ibu

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

Ruangbaca.id – Contoh Cerpen Tentang Ibu berikut ini tak sekedar cerpen bermajas tentang ibu, tak juga sekedar contoh cerita fantasi tentang ibu.

Melainkan, ini adalah bentuk cerpen kasih sayang ibu, meski diceritakan dengan sangat singkat, tapi inilah gambaran seorang ibu tentang arti perjuangan dan kasih sayang pada anaknya.

Cerita pendek ini yang dijadikan contoh cerpen tentang ibu ini adalah hasil karya Wini Hanifah Muthmainnah – SMPIT Permata Bunda Islamic Boarding School.

Ia merupakan salah satu alumni Kelas Menulis Yuk Menulis Indonesia dan Jeruk Press. Yoga Pratama, selaku editor cerita pendek yang mengediting tulisan Wini mengatakan, ini cerpen hati seorang ibu.

“Inilah gambaran kasih sayang ibu yang ditulis dengan singkat namun penuh makna. Bagaimana digambarkan di cerpen tentang ibu sedih karena sikap anaknya yang tiba-tiba keras dan berubah, tapi tetap tenang,” kata dia.

Sampai akhirnya, ada sebuah permasalahan yang bisa diselesaikan, dan sang anak pun menyadari, bahwa kasih sayang dan perjuangan ibu itu nyata dan sangat berarti untuk anaknya.

Berikut contoh cerpen tentang ibu yang bisa kita pelajari:

Contoh Cerita Pendek Tentang Ibu – Sang Pelarian

contoh cerpen tentang ibu
Contoh Cerpen Tentang Ibu

Bisakah kalian merasakan perasaan yang orang lain rasakan? Mungkin hanya beberapa orang saja yang dapat memiliki kelebihan seperti itu, tentu orang itu akan sangat senang.

Andai saja, jika memang benar ada, seseorang yang benar-benar dapat merasakan persaan yang orang lain rasakan?

Hmm. Jika benar ada. Justru hal tersebut tak berlaku pada Jihyeon. Justru jika ada dihadapan Jiheyon, ia akan langsung mengajukan banyak pertanyaan.

Jiheyon akan bertanya apa yang kerap ia rasakan. Terjebak dalam kerumunan pembully?

Jika ini terjadi pada orang tersebut, yang dapat merasakan persanaan orang lain, apakah orang tersebut juga dapat mendengar jeritan hati Jihyeon?

***

Di sebuah ruang, di pojok kamarnya, Jihyeon terbaring lemah. Pergelangan tangannya terdapat banyak luka sayatan yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun, maupun mamanya sendiri.

Dalam pembaringannya, matanya terbuka menatap langit-langit atap rumahnya. Namun tatapannya kosong. Dalam benaknya hanya ada satu kalimat, yakni, menghilang tak terlihat dari dunia ini.

“Tok.. Tok.. Tok,” suara ketukan dair pintu kamarnya terdengar.

Lamunannya terbuyarkan. Satu kalimat yang ia pikirkan untuk menghilang tak terlihat lagi di dunia ini pun pecah. Hening dikamarnya pun sigap merapihkan diri. Sementara, Jihyeon menatap pintu berwarna coklat kamarnya itu.

“Jihyeon-ie, sudah waktunya makan malam! Mama menunggumu di ruang makan!” Suara mama Jihyeon memanggil.

Lalu, lamat-lamat suara itu tak lagi terdengar. Suara kaki yang menjauh dari pintu. Sekedar memanggil Jihyeon untuk makan malam.

Alhasil, suara itu tak lagi digubris Jihyeon. Ia tampak tak peduli akan apapun. Apalagi, hanya sebatas tentang kekurangan nutrisi yang mampu membuatnya meninggalkan semua isi dunia.

Justru, dalam benak pikirannya yang konyol, tidak makan adalah salah satu tindakan yang sangat membantunya dalam menjalankan proses mengakhiri hidupnya.

Jihyeon merengkuh seraya memeluk kedua lututnya. Posisinya akan selalu seperti ini sampai keesokan harinya, terlebih lagi, ia masih bisa memejamkan keduanya matanya.

Baca Juga: Cara Membuat Cerpen Untuk Pemula Yang Baik dan Benar

***

“Ah! Jihyeon-ie! Mama sudah membuatkan bekal.”

“Tolong jangan berbicara denganku lagi!” Potong Jihyeon sambil memakai sepatunya kemudian keluar rumah tanpa menghiraukan mamanya.

Mama sangat terkejut! Apa yang barusan dikatakan anaknya. Mama pun terdiam lama, masih sembari memegang kotak bekal yang tadinya ingin ia berikan pada Jihyeon.

Seketika, lidahnya kelu untuk memanggil anaknya untuk kembali dan kakinya sungguh kaku untuk dapat mengejar anak kesayangannya itu. Ia memilih kembali melakukan pekerjaan selayaknya ibu rumah tangga.

Jihyeon berjalan lamban, sesekali menendang apapun yang menghalangi jalannya. Siang yang terik menghasilkan kegerahan tersendiri bagi Jihyeon, keringat mengucur walau tak terlalu deras dipelipis Jihyeon.

Jalanan penuh mobil membuat mata Jihyeon memanas dan membuat Jihyeon lebih memilih berjalan menunduk.

“Aduh!” Pekik seseorang ketika Jihyeon tak sengaja menabrak bahunya.

Mata Jihyeon membulat sempurna saat melihat siapa yang barusan ia tabrak. Soohee, seseorang yang menjadi mimpi buruk bagi Jihyeon.

“Wah! Lihat siapa ini? Bahkan mencari masalah denganku tidaklah cukup bagimu hanya dengan berada di sekolah, apa kamu menginginkan itu berada di luar sekolah?”

Jihyeon hanya menundukkan pandangannya selama Soohee berkata, “Bagaimana? Setuju?” Soohee melirik teman-temannya, Minjoon dan Seungyeol mengangguk mantap.

Kedua lengan Jihyeon ditarik paksa oleh kedua teman Soohee dan Jihyeon dibawa ke suatu gang yang sangat sepi, jarang sekali orang-orang melewatinya.

“Karena ini di luar sekolah, perarturan sekolah sudah tak perlu dipikirkan,” ucap Soohee dengan sinis dan tatapan matanya sangat menakutkan.

Jihyeon punya perasaan buruk tentang ini. Ia sangat ingin segera melarikan diri dari sini, tapi kakinya benar-benar tak bisa ia kendalikan.

Matanya mulai mengeluarkan air mata saat Soohee mengeluarkan gunting dari dalam tasnya.

Jantung Jihyeon berdebar tak karuan, hatinya sungguh ingin ia berteriak meminta tolong untuk kali ini, tapi lidahnya pun tak bisa bergerak sama sekali.

“Hei,” dagu Jihyeon dipaksa mendongak oleh Soohee, nafas Jihyeon seakan tertahan berada dihadapannya.

“Aku sangat membenci wajah sok cantikmu itu, memotong rambutmu tidaklah cukup bagiku, mungkin dengan hal lain?”

Soohee membuat goresan kecil pada pipi Jihyeon, ia meringis dan sebisa mungkin terlihat kuat. Namun  ekspetasi tak sebanding dengan realita.

Air mata Jihyeon sudah tak bisa ia tahan, bendungan itu seakan sudah bocor dan mengeluarkan isinya. Tawa ketiga orang itu terdengar sangat melengking dan jelas membuat Jihyeon tambah merinding.

Bahkan saat Soohee sudah menarik ratusan helai rambut Jihyeon dengan tangannya yang membuat Jihyeon tersungkur.

Baca Juga: Cara Menjadi Juara Kelas, Kayak Mana? Ikuti Tips Berikut

Mama...

Entah kenapa mamalah yang langsung muncul dibenak Jihyeon. Mama yang baik dan selalu meperhatikan dirinya, walau ia sama sekali tidak peduli dengan adanya kehadiran mama dalam kehidupannya selama ini.

Rasa menyesal menjalar dalam hati Jihyeon saat mengingat wajah  mamanya yang terlihat tersakiti karena omongan Jihyeon tadi.

“Hentikan! Jauhkan tanganmu dari anakku!”

Ketiga perempuan itu terkejut termasuk Jihyeon. Matanya melebar dan kelegan terbesit dibenak Jihyeon. Mama, datang dengan wajah memerah.

Soohee yang sadar masih menjambak rambut Jihyeon langsung menghempaskan rambut Jihyeon begitu saja dan meninggalkan beberapa helai rambut Jihyeon disela jari-jemarinya.

“Apa yang kalian lakukan? Sadarlah! Ini perbuatan tak baik!” Jerit mama dengan intonasi yang begitu tinggi.

Soohee tertawa, namun tawanya meninggalkan kesan mengejek, “Ini tak ada hubungannya denganmu, memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku melakukan sesuatu pada orang yang jelek ini?”

Mama berkacak pinggang, “Aku tahu orang tuamu pemilik perusahaan terkenal, aku akan menghubungi polisi, kalian akan masuk penjara anak-anak dan orang tuamu,“ mama menunjuk Soohee.

“Perusahaan kalian akan bangkrut dalam sekejap mata.”

Seketika, mendengar ancaman tersebut Soohee sangat ketakuan. Ia mengeluarkan air matanya. Ia sungguh ketakutan.

Jihyeon tahu, Soohee takut bukan karena ancaman mama, tapi Soohee takut dengan amarah orang tuanya nanti. Mungkin akan sangat menakutkan.

“Maafkan aku, tolong jangan laporkan pada siapapun,” mohon Soohee dengan amat seraya membungkuk, Minjoon dan Seungyeol-pun begitu.

Mama masih menatap geram ketiga perempuan yang berada dihadapannya. Mama menghela nafasnya kemudian tersenyum.

“Pulanglah.”

Baik ketiganya maupun Jihyeon terkejut dengan jawaban mama. Jihyeon menangis, ia tahu mama nya masih memiliki rasa iba pada mereka.

Ketiga perempuan itu langsung berlari meninggalkan Jihyeon dan mama. Mama menatap Jihyeon dan langsung memeluknya. Mama sukses membuat Jihyeon menangis keras.

“Mama! Mama!” Jihyeon balas memeluk mama dengan erat.

“Jihyeon-ie, mama akan selalu berada dipihakmu dan akan selalu mencintaimu sampai akhir hidup mama.

Orang tua mana yang membiarkan anaknya pergi dengan sikap yang sangat mencurigakan? Seperti halnya Jihyeon, ia belajar banyak dari segala yang dia lakukan.

Jihyeon lega saat mamanya datang, untunglah ia berpikir akan kehadiran mamanya yang pasti datang.

Pesan Dari Cerpen Tentang Ibu Karya Wini Hanifah

contoh cerpen tentang ibu
Contoh Cerpen Tentang Ibu

Nah itulah salah satu contoh cerita pendek yang ditulis oleh Wini Hanifah tentang anak dan ibunya. Cerpen tentang kasih sayang dan perjuangan seorang ibu.

Dari contoh cerpen tentang ibu kali ini, kita dapat belajar banyak hal. Di antaranya adalah betapa kasih sayang seorang ibu sangatlah besar. Bahkan mampu menjadi pelindung bagi anaknya.

Kasih sayang seorang ibu yang tak lagi terhingga dan dapat dihitung. Segala resiko untuk memberikan kenyamanan dan keamanan pada anaknya, sungguh sangat luar biasa.

Dan cerita ini tak sekedar menjadikan cerita yang menarik. Namun juga cerita pendek yang inspiratif. Sekian pelajaran yang bisa kita petik kali ini. Terimakasih. Salam.

2 Responses for Contoh Cerpen Tentang Ibu Penuh Kasih Sayang Pada Anaknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *