Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu Yang Mengharukan

Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu Yang Mengharukan di Ruangbaca.id. Artikel tayang Maret 09, 2019 Dipost oleh Yoga Pratama in Cerpen.

Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu
Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

Ruangbaca.id – Ini adalah salah satu contoh cerpen pejuangan seorang ibu. Salah satu cerita pendek atau cerpen tentang ibu yang menurut admin adalah sebagai cerita terbaik.

Contoh Cerpen tentang ibu ini meski tulisan yang singkat, namun memiliki kesan yang mendalam. Sehingga pembacanya akan terbawa pada suasana sedih dan haru.

Selain itu, gambaran isi contoh cerpen kali ini merupakan cerpen perjuangan seorang ibu yang harus diteladani. Tidak mengeluh pada anak-anaknya, namun tetap berusaha menjadi yang terbaik layaknya hati seorang ibu.

Inilah bentuk cerpen cinta ibu dan kasih sayang ibu singkat bentuk gambaran perjuangan seorang ibu hingga akhir hayatnya.

Inilah contoh cerpen tentang ibu yang bisa kita teladani ditulis oleh Tiara Nirmala:

Contoh Cerpen Tentang Ibu : Sisa Waktu Yang Telah Hilang

Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu
Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu

Ibu paruh baya itu bernama Bu Fatimah. Perawakannya kecil, usianya baru 55 tahun. Sehari-hari ia selalu mengenakan kerudung lebar berwarna gelap.

Memiliki kulit kecokelatan, mungkin karena seringnya terkena panas matahari saat berdagang di pasar.

Ya… Bu Fatimah sudah hampir 20 tahun berdagang warung nasi di pasar, usaha yang ditekuninya sejak suaminya meninggal karena kecelakaan, saat anak bungsunya baru berusia 1 tahun.

Dari hasil berdagang tersebut, ia mampu mengantarkan ketiga anaknya lulus menjadi sarjana.

Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang ibu yang kerap menghadapi pasang surut usahanya, namun tidak pernah menyerah untuk bisa menghidupi dan memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Anak sulungnya, Prasetya, 29 tahun, merupakan lulusan Fakultas Hukum di kampus negeri terkemuka di Kota Bandung.

Saat ini Prasetyabekerja di salah satu firma hukum yang cukup bonafide di ibukota, mengingat banyaknya klien yang merupakan artis-artis ternama.

Anak keduanya, Pangestu, berusia 27 tahun, Sarjana Pertanian, bekerja di perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang makanan minumandan menjabat sebagai manajer area Jawa Tengah.

Sedangkan anak bungsunya, bernama Kirana, usia 25 tahun, bekerja di salah satu Bank BUMN di Bandung, baru menikah dan saat ini sedang hamil memasuki usia 8 minggu.

Sudah tiga tahun belakangan ini, Bu Fatimah lebih banyak menghabiskan waktu dirumahnya yang terletak di pinggiranKota Bandung. Ia tidak lagi mengelola langsung usaha warung makannya.

Untuk mengelola keuangan dan belanja warung makannya tersebut, ia percayakan pada asistennya yang sudah ikut bekerja sejak warung makan tersebut dibuka.

Hanya sesekali Bu Fatimah datang mengontrol ke Pasar Baru, tempat warung makannya tersebut.

Hari-harinya kini diisi dengan kegiatan pengajian dikampungnya,serta merajut tas, melanjutkan hobinya dahulu yang terhenti sejak ia sibuk berdagang.

Namun tak dapat dipungkiri, sejak semua anaknya menikah, memiliki karir yang cemerlang,tak ada seorangpun yang tinggal bersama dirinya.

Bahkan, anak pertama dan keduanya tinggal berlainan kota, ia sering merasakan kesepian yang mendalam. Semua anaknya kini sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Di hari Sabtu ini, cuaca tampak mendung sejak pagi di kampung tempat Bu Fatimahtinggal. Ia duduk ditempat tidurnya, menatap fotonyadan ketiga anaknya tersenyum ceria saat wisuda Kirana, 3 tahun yang lalu.

Tiba-tiba kerinduan menyeruak dihatinya. Ia rindu makan bersama anak-anaknya, rindu mendengarkan cerita keseharian mereka, lalu tergelak bersama saat ada cerita yang lucu yang terlontar di tengah obrolan mereka.

Tanpa sadar, air matanya pun menetes deras. Bahunya sedikit berguncang menahan isakannya.

Diambilnya telepon genggam yang ada di meja kecil dekat tempat tidurnya. Sambil menyeka sisa air mata yang tergenang di sudut matanya, ia mulai mencari nama anak pertamanya di kontak hp tersebut.

Baca : Cara Membuat Cerpen Untuk Pemula Yang Baik dan Benar

Lama ia mendengar nada sambung yang merupakan lagu salah satu penyanyi muda yang saat ini sering didengarnya di televisi. Akhirnya telepon pun tersambung.

“Assalamualaikum Pras.

“Waalaikumsalam Ibu. Ada apa ini Bu? tumben Bu telpon Pras.”

Lalu Bu Fatimah pun menanyakan, kapan kiranya anak tertuanya itu bisa datang mengunjungi dirinya. Tetapi ternyata Pras menjawab, bahwa saat ini ia sedang mendampingi seorang klien dengan kasus yang cukup berat dan menguras waktu.

Sehingga belum bisa memastikan kapan ia bisa datang berkunjung. Setelah memberi pesan, agar anaknya jangan meninggalkan sholat lima waktu dan makan yang teratur, Bu Fatimahpun mengakhiri percakapan tersebut.

Bu Fatimahterdiam sejenak sebelum melanjutkan kembali mencari kontak Pangestu,anak keduanya dan mencoba menelponnya. Hingga tiga kali ia mencoba telepon, tetapi tak juga diangkat, akhirnya ia memutuskan mencoba menelpon anak bungsunya saja, Kirana.

Deringan kedua, terdengar suara anak bungsunya itu menyahut, mengangkat teleponnya. Suaranya kecil dan tampak lesu.

“Assalamualaikum, Kirana. Sedang apa sayang ibu?”

“Ibu, aku lagi sakit. Ini mual parah setiap pagi Bu. Padahal aku sudah minum obat dari dokter untuk mengurangi mual.

Bu Fatimahtersenyum kecil, dan menjawab dengan lembut.

“Sabar ya nak, memang begitu proses yang dialami kalau perempuan hamil, terutama dalam 3 bulan pertama usia kandungannya.

Ibu dulu waktu mengandung kamu, bahkan sampai diopname di rumah sakit saat ibu muntah tidak berhenti-henti pagi, siang, sore, malam, setiap ada makanan yang masuk.”

“Iya Bu, dokter juga sudah berkata seperti itu. Tetapi aku juga harus sehat bu, karena kerjaan di kantor juga lagi banyak-banyaknya.”

“Bu… aku kok pengen makan pepes tahu buatan ibu ya. Tolong masakin ya bu.”

Tampak binar bahagia di mata Bu Fatima. Bu Fatima pun tanpa ragu menjawab akan segera membuatkan pepes tahu dan mengantarkannya ke rumah anak bungsunya itu.

Segera Bu Fatimahberanjak ke dapur, membuka kulkas dan menyiapkan semua bahan untuk memasak masakan yang diidamkan Kirana. Kebetulan semua bahan ada semua di kulkas.

Daun pisang tinggal ambil di belakang rumah. Tak lama, masakan pun telah siap. Bu Fatimahbergegas mengganti bajunya, ia ingin segera datang ke rumah anaknya.

Saat sudah bersiap memesan transportasi online, tiba-tiba rasa sakit mendera kepalanya.

Entah kenapa, sejak sebulan terakhir ini Bu Fatimahkerap merasakan sakit kepala yang cukup mengganggu setiap pagi hari. Tetapi ia masih enggan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Namun rasa sakit yang dirasa pagi ini lebih hebat dibanding sebelumnya.

Bu Fatimahpun lantas merebahkan badan, memejamkan mata menahan sakit, bibirnya bergetar pelan melafazkan istigfar tiada henti. Setelah dirasa sudah cukup membaik, Bu Fatimah bergegas berangkat menuju rumah Kirana.

Bu Fatimahyang mengenakan gamis panjang biru dongker, turun dari mobil taksi online dengan peluh yang mengalir didahinya.

Tampak raut wajah pucat dan lemas tergurat di wajahnya yang masih menampakkan kecantikan masa mudanya.

Bu Fatimah berjalan dengan membawa rantang dan terlihat kesusahan karena ternyata rasa sakit dikepalanya datang kembali.

Ia pun menghembuskan nafas lega saat selesai membuka gerbang rumah putih dengan halaman yang cukup asri didepannya.

“Assalamualaikum,” Bu Fatimah mengucapkan salam sembari mengetuk pintu perlahan.

Lama ia menunggu, dan kemudian mengulang kembali ketukan dipintu. Sesekali ia mengintip ke dalam melalui kaca depan rumah itu. Kemudian suara langkah kaki pelan terdengar membuka selot kunci pintu dari dalam.

“Waalaikumsalam,” Kirana membukakan pintu untukibunya.

“Masuk Bu,” sambut Kiranahangat.

“Ibu naik ap…” belum selesai kalimat pertanyaan Kirana, tiba-tiba Bu Fatimah jatuh pingsan di depan Kirana saat kakinya baru melangkah masuk.

Kirana pun terkejut dan spontan menjerit,“Ibuuu…ibu kenapa?” Isi rantang yang Bu Fatimah bawa pun bertaburan dilantai keramik rumah itu.

Baca Juga: Contoh Cerpen Tentang Ibu Penuh Kasih Sayang Pada Anaknya

Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu
Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu

*********************************************************************

Suasana di rumah Bu Fatimah tampak ramai. Banyak tetangga yang berdatangan memenuhi ruang tamu serta di pelataran rumah itu. Tampak Kirana masih menangis sesunggukan dipelukan suaminya.

Pras, yang mengenakan kemeja hitam tampak menatap jasad Bu Fatimah yang diselimuti kain batik coklat, dengan kesedihan mendalam.

Tak lama, Pangestu, anak kedua Bu Fatimah datang bersama istri dan anaknya. Ia berteriak-teriak memanggil ibunya, lalu memeluk tubuh ibunya yang sudah terbaring kaku.

“Ibu… Maafkan Pengestu Bu. Maafkan aku Bu…” Air matanya berderai. Tetapi Bu Fatimah tidak lagi mampu menjawab panggilan anaknya. Bu Fatimah telah pergi untuk selama-lamanya.

Setelah Kirana membawa ibunya ke rumah sakit, sesampai di IGD, ibunya diperiksa oleh tim medis, namun tak lama berselang dokter menyatakan bahwa Bu Fatimah sudah tiada.

Dari hasil pemeriksaan itu, ternyata Bu Fatimah memiliki tumor dikepalanya yang sudah masuk kategori ganas.

Kirana tercengang, mendapati fakta bahwa ibunya menderita sakit parah, padahal tak pernah sekalipun ia mendengar Bu Fatimah mengeluh sakit.

Hari ini, semua anak Bu Fatimah berkumpul. Hal yang sesungguhnya sangat Bu Fatimah harapkan semasa hidupnya, di setiap kerinduan terhadap anak-anaknya muncul.

Prasetya, Pangestu dan Kirana menunduk dalam,dihadapan pusara ibunya. Sungguh mereka merasakan kehilangan sosok Ibu yang selalu menyayangi mereka.

Ibu yang selalu tersenyum, bahkan saat mereka berbuat hal-hal yang mengesalkan. Ibu yang tak pernah meminta, tak pernah mengeluh, bahkan selalu menomorsatukan kepentingan anak-anaknya.

Mereka semua baru tersadar bahwa jarang sekali mereka berkunjung menengok ibunya saat mereka telah memiliki rumah masing-masing. Mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk membalas semua jasa ibu mereka.

Di sisa-sisa kehidupan sang ibu, mereka hanya merupa penyesalan yang terlambat.Rasa kehilangan itupun hingga dan berbicara lewat air mata yang tiada henti terjatuh.

****

2 Responses for Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu Yang Mengharukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *