Contoh Cerpen Pendidikan Singkat dan Menarik

Contoh Cerpen Pendidikan Singkat dan Menarik di Ruangbaca.id. Artikel tayang Agustus 22, 2019 Dipost oleh Yoga Pratama in Cerpen.

contoh cerpen pendidikan
contoh cerpen pendidikan

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

Ruangbaca.id – Contoh Cerpen Pendidikanini berjudul IMPIAN NYATA. Cerita pendek singkat dan menarik ini adalah karya Alvira Melinda, pelajar SMA Negeri 1 Padang Cermin.

Seperti kita ketahui cerita pendek adalah menjadi salah satu bagian seni bidang sastra yang menarik untuk kita cermati. Baik dari sisi kepenulisannya yang sederhana dan sekali habis dibaca.

Tapi ada banyak cerita yang bisa kita tulis. Bahkan ada banyak contoh untuk turut menulis cerpen ini. Tak hanya contoh cerpen pendidikan yang akan kita bahas kali ini. Tapi lebih dari itu.

Di sisi lain, ada banyak juga contoh kumpulan cerpen singkat dan menarik. Di antaranya dari contoh cerpen persahabatan yang menceritakan tentang kisah persahabatan.

Dan bahkan bisa menjadi contoh cerpen pengalaman, karena cerita yang ditulisnya didasarkan karena pengalaman. Bahkan meski cerpen disebut cerita pendek, ada juga contoh cerpen panjang. Misalnya hingga lebih 10.000 kata.

Nah intinya adalah ketika kita membut atau tengah mencari contoh cerpen pendidikan, setidaknya carilah cerpen pendidikan moral, cerpen pendidikan karakter, sehingga tak hanya terkesan cerpen pendidikan panjang saja, tetapi ada nilai edukasi di dalamnya kepada pembacanya.

Dan berikut ini contoh cerpen pendidikan yang sudah ditulis oleh Alvira Melinda, saat itu ia dalam menulis cerpen ini tengah duduk di bangku SMA Negeri 1 Padang Cermin.

Cerpen ini terbit di kumpulan cerpen “Suara Rindu” yang dinaungi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lampung:

Contoh Cerpen Pendidikan Berjudul Impian Nyata

contoh cerpen pendidikan
Ilustrasi contoh cerpen pendidikan

Nita Rosmala, ia duduk di bangku kelas X Mipa 1, di SMA NEGERI 1 PADANG CERMIN. Dia hidup dengan ibu dan adiknya, ayahnya telah lama meninggal, dan kini hanya ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga.

Terkadang Nita ingin sekali membantu ibunya tetapi ibunya selalu melarangnya, dengan alasan Nita harus belajar.

Nita mempunyai mimpi ingin pergi ke Palestina.  Mimpi  itu berawal saat ia melihat berita-berita tentang Palestina yang terjajah melalui televisi, seketika hatinya terketuk untuk membantu mereka.

Bahkan, tak jarang ia juga mengajak teman-temannya untuk membantu Palestina yang tengah dijajah.

“Nita berangkat sekolah dulu ya, Bu.”

“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Ini uang untuk naik angkot”

Assalamualaikum,” ucap Nita sambil mencium punggung tangan ibunya.

Waalaikumsalam

Nita jalan tergesa-gesa. Sesekali ia melihat jam di tangan kirinya. Pukul 7.16, tapi ia belum juga sampai. Untuk kesekian kalinya ia terlambat datang ke sekolah.

Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, apalagi ditempuh dengan jalan kaki. Meski setiap hari ibu memberinya uang untuk ongkos naik angkot tapi ia memilih untuk berjalan kaki. Entahlah apa yang ada dipikirannya.

*

Tok.. tok.. tok..!!

Pintu kelas terbuka perlahan. Kepala Nita menyembul dari balik pintu.

“Maaf, Bu. Saya terlambat lagi,” ucap Nita sambil menunduk.

“Selalu saja begitu, kamu selalu telat pelajaran saya!” Mata Bu Fika, guru matematika melotot tajam ke arah Nita. Seisi kelas nampak tegang.

“Maaf, Bu, saya telat karena…” kalimat Nita terputus.

“Sudah tidak ada toleransi lagi. Keluar dari kelas dan jangan pernah mengikuti pelajaran saya selama dua bulan!” bentak Bu Fika.

“Taa…pii, Bu. Tolong beri saya kesempatan sekali lagi, Bu. Kalau ibu saya tau pasti sedih, saya siap menerima hukuman yang lain, Bu.” Nita memelas. Suaranya parau.

“Saya tidak perduli, cepat keluar sekarang!” jawab Bu Fika menahan amarahnya.

Baca Juga: Cerita Pendek Cinta Sedih Untuk Remaja Bikin Nangis

Nita keluar kelas dengan langkah lesu dan wajah yang dipenuhi air mata. Nita terus berjalan dengan gontai menyusuri koridor sekolah. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.

“Eh.. Maaf aku gak sengaja.” Nita buru-buru mengusap air matanya dengan punggung tangan.

“Oh, iya nggak apa-apa kok. Kenapa kamu menangis?”

“Oh, nggak. Mungkin mataku kemasukan debu,” jawab Nita menunduk.

“Saya Cintya Sari, pindahan dari Bandung,” gadis itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Namaku Nita Rosmala, bisa dipanggil Nita” sahut Nita singkat.

“Senang berkenal denganmu, saya duluan ya,” Pamit Cintya.

“Iya ,Cin, sampai ketemu lagi” ucap Nita.

Nita kembali ke kelasnya karena pelajaran ke dua akan dimulai.

Tetapi ketika Nita memasuki kelasnya berbagai cibiran terlontar, terutama Ersa Wulandari anak pengusaha kaya yang sombong dan suka menindas orang yang memiliki derajat yang rendah.

“Cie yang gak boleh ikut pelajaran bu Fika. Katanya anak pintar tapi kok suka telat. Eh… Iya dia kan kalo berangkat sekolah jalan kaki. Dasar orang susah,” cibir Ersa.

Nita hanya diam saja. Sesekali ia menggelengkan kepala atas sikap Ersa padanya.

Lalu lalang kendaraan dan panasnya cuaca di siang hari tak membuat semangat Nita surut. Justru ia semakin semangat karena yakin di balik kesulitan pasti ada kemudahan.

Baca Juga: Contoh Cerpen Perjuangan Seorang Ibu Yang Mengharukan

Tiba-tiba Nita berhenti. Dilihatnya seorang gadis mengenakan seragam sekolah tengah membagikan makanan untuk para pengemis di pinggir jalan.

“Bukankah itu Cintya?” ucap Nita setengah berbisik.

“Hai, Cin,” sapa Nita ramah.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Cintya sedikit terkejut.

“Ini adalah jalan menuju rumahku. Kebetulan aku gak sengaja liat kamu lagi bagi makanan, jadi aku kesini deh,” jawab Nita.

“Oh gitu ya. Kebetulan aku lagi ada sedikit rezeki. Jadi aku belikan makanan untuk mereka,” jelas Cintya disertai senyuman.

“Andai aku bisa sepertimu, Cin,” ucap Nita setengah berbisik.

“Maksudmu?” tanya Cintya.

“Oh, nggak apa-apa, kok. Sudah habis nasi kotaknya?” Nita mengalihkan pembicaraan.

“Ini, masih sepuluh kotak lagi. Ayo kalau kamu mau bantu.” Cintya mengajak Nita membagi nasi kotak yang masih tersisa.

Tak membutuhkan waktu lama, nasik kota yang tersisa habis dibagikan kepada pengemis dan pemulung yang kebetulan melintas. Meski baru pertama kenal tetapi mereka mudah sekali akrab.

Bahkan, tanpa merasa canggung Nita menceritakan kenapa sampai mendapat hukuman dari Bu Fika. Ia menceritakan keinginannya tentang empatinya pada rakyat Palestina.

Baca Juga: Contoh Resensi Buku Non Fiksi Pengetahuan

Tentang impian agar suatu saat dapat mengunjungi Palestina.

“Tak banyak yang dapat kulakukan untuk membantu rakyat Palestina. Memilih berjalan kaki ke sekolah dan merelakan uang ongkos angkot untuk membantu Palestina. Baru itu yang bisa kulakukan,” Nita menunduk sedih.

“Aku bangga padamu. Seharusnya aku yang iri padamu,” ucap Cintya tulus.

Tok.. tok.. tok.!

Cintya mengetuk pintu ruangan Bu Fika lalu membukanya perlahan.

“Maaf, Bu. Apakah saya boleh masuk?” ucap Cintya dengan sopan.

“Iya, silahkan masuk.”

“Terimakasih, Bu.”

“Ada yang bisa dibantu?” tanya Bu Fika ramah.

“Begini, Bu. Ini tentang Nita.”

Tiba-tiba raut wajah Bu Fika berubah. Awalnya yang terlihat ramah kini berubah sedikit tegang.

“Maaf kalau saya lancang, Bu. Izinkan saya bercerita terlebih dahulu,” Cintya memelas.

“Baiklah. Silahkan ceritakan apa yang kamu ketahui,” Bu Fika mempersilahkan Cintya bercerita. Mulailah Cintya menceritakan apa yang kemarin dia ketahui. Tentang hukuman yang diterima oleh Nita, tentang Palestina, tentang seringnya Nita terlambat sampai ke sekolah. Bu Fika mendengarkan cerita Cintya dengan serius. Guratan penyesalan tampak dari wajahnya karena telah memberikan hukuman pada Nita tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu.

“Sungguh niat yang mulia,” ucap Bu Fika spontan.

“Iya, Bu. Saya bangga punya teman seperti dia. Saya mohon sama ibu tolong bantu dia dan bebaskan dari hukuman,” ucap Cintya sembari memohon.

“Baik, kamu tenang saja Cintya. Terimaksih informasinya,” ucap Bu Fika.
“Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi.”

Baca Juga: Cara Membuat Cerpen Untuk Pemula Yang Baik dan Benar

contoh cerpen pendidikan
Ilustrasi contoh cerpen pendidikan

Pada saat jam istirahat Bu Fika mendatangi kelas Nita dan memintanya agar segera mengahadap ke ruangan.

“Nita, ikut saya ke ruangan,” panggil Bu Fika.

“Iya, Bu,” sahut Nita penuh ketakutan.

Nita pun beranjak dari tempat duduknya, lalu segera menyusul Bu Fika ke ruangan. Beberapa siswa nampak khawatir karena tiba-tiba Nita dipanggil oleh Bu Fika agar ke ruangan.

“Sepertinya kelas kita bakal berkurang satu orang, nih,” ledek Ersa saat tahu Nita dipanggil oleh Bu Fika.

“Ayo, masuk Nita, jangan takut,” ucap Bu Fika yang melihat wajah Nita nampak ketakutan.

“Baik, Bu.” Nita pun perlahan memasuki ruangan Bu Fika. Lalu duduk di kursi dan menunduk pasrah.

“Coba kamu jelaskan, mengapa kamu selalu datang terlambat,” pinta Bu Fika.

Nita mengangkat kepalanya perlahan dan memandang wajah Bu Fika yang tersenyum tulus. Mulailah Nita menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sama persis dengan yang ia ceritakan pada Cintya. Bu Fika sesekali tersenyum dan manggut-manggut mendengar penjelasan Nita.

“Baiklah, saya rasa sudah cukup penjelasanmu. Ibu akan membantumu walau tidak banyak,” ucap Bu Fika tulus.

“Benarkah?” tanya Nita penasaran.

“Terimakasih,  Bu,” ucap Nita sembari mencium punggung tangan Bu Fika.

“Jadi hukuman saya selesai,  Bu?” tanya Nita.

“Oo.. Tentu tidak. Sebelum impianmu benar-benar terwujud, hukuman belum selesai,” canda Bu fika disertai dengan senyum mengembang.

Baca Juga: Unsur Unsur Cerpen Dalam Menulis Cerita Pendek

Itulah yang bisa kita pelajari tentang contoh contoh cerpen pendidikan yang singkat dan menarik. Semoga saja, dengan cerita pendek ini kita dapat memaksimalkan potensi untuk membuat karya yang lebih baik lainnya.

Untuk contoh karya lainnya adalah sebagai berikut:

Kumpulan Cerpen Pendidikan : Perubahan

Berikutnya adalah contoh cerpen pendidikan berjudul Perubahan karya Fakhri Falih(SMA IT An Qordova). Adapun ceritanya adalah sebagai berikut:

Inikah takdirku? Pertanyaan yang berulang-ulang yang terlintas di kepala ini. Aku bahkan tak tahu jawaban dari pertanyaan itu.

Aku hanyalah anak seorang petani di salah satu daerah pelosok Jawa Barat, yang tak pernah membayangkan tentang hal ini. Kini aku telah menjadi seseorang yang beberapa tahun lalu aku impikan.

Aku berdiri di hadapan jendela. Kuarahkan pandangan menuju gerbang sekolah melihat satu persatu murid baruku datang dengan semangat yang baru.

Teringat akan masa itu, masa ketika aku berada di posisi mereka, kini sudah lima tahun sejak masa itu. Masa-masa dimana semua ini bermula.

Pagi itu layaknya anak-anak yang lain, aku dan teman temanku pergi kesekolah dengan hati yang berdebar kencang. Bukan tanpa alasan.

Ya, hati kami berdebar kencang karena hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi kami semua, hari pengumuman kelulusan sekolah.

Kebanyakan dari kami sudah memiliki tujuan kemana hidup ini akan berlanjut, ada yang melanjutkan ke SMA, Pondok Pesantren, bahkan ada yang memutuskan berhenti dari bangku pendidikan demi membantu ekonomi keluarga.

Baca Juga: 10 Kata Kata Kangen Pacar dan Rindu Mantan

Tak jauh berbeda dengan anak-anak desa yang lain, setelah lulus SMP ini aku sangat ingin melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren, selain karena biayanya cukup terjangkau, tapi juga disana aku yakin bisa belajar ilmu agama yang saat ini sangat dibutuhkan untuk membekali hidup dari pengaruh negatif yang kian merebak di desaku ini.

“Abaaahh, Ambuuu..!” teriakku sambil berlari memasuki pintu rumah yang terbuka. Setelah bertemu kedua orang tuaku, aku pun memperlihatkan hasil belajarku selama ini dengan selembar kertas beruliskan “LULUS”.

Tampak wajah gembira terpancar dari wajah kedua orang tuaku, tapi aku melihat hal lain dari wajah mereka, seolah mereka ingin memberi tahu sesuatu.

Dan benar saja tak lama kemudian mereka mengatakan bahwa ada salah satu pamanku yang ingin bertemu denganku, Paman Toni namanya.

Aku pun kebingungan apa yang membuat Paman Toni ingin bertemu denganku, padahal sudah lama dia tak tinggal di desa ku lagi.

Selagi mempersiapkan untuk kedatangannya, hati ku kembali berdebar entah mengapa tapi perasaanku tak enak.

Pukul dua siang Paman Toni pun datang, tak kusanga penampilannya berbeda jauh dengan terakhir kali aku bertemu dengannya. Gaya khas orang kota terlihat dari pakaiannya yang rapi dan juga gaya bicaranya yang berubah.

Setelah lama bercakap-cakap akhirnya kami sampai pada inti pembicaraan, ternyata Paman Toni sering mengamati remaja-remaja di desa, dan hasil pengamatannya ternyata sangat membuatnya kecewa.

Kebanyakan remaja di desaku sudah terlalu terbawa arus globalisasi ke arah yang negatif. Mabuk, pergaulan bebas, bahkan banyak tindak kejahatan yang dilakukan oleh sebagian remaja di sini.

Paman Toni memang sejak muda memiliki jiwa kemanusiaan yang besar, dia sangat berambisi untuk membuat desanya maju. Dan langkah awalnya dengan memperbaiki perilaku para remaja di sini.

Baca Juga: Bakso Enak di Bandar Lampung, Kuahnya Kaya Akan Rempah

Oleh karena itu dia ingin mengajakku untuk ikut ke kota dan bersekolah di sana. Akupun terkejut dan menolak mentah mentah tawaran itu, aku tetap teguh dengan pendirianku untuk melanjutkan pendidikan ke Pesantren.

Paman Toni pun memberi aku waktu hingga esok hari untuk memikirkannya.

Aku dan orangtua ku berdiskusi sangat lama. Orangtuaku sudah mengizinkan untuk pergi bersama Paman Toni. Hatiku sangat kacau, tapi aku serahkan urusan ini kepada Tuhan, karena hanya Dia yang mengetahui segala urusan.

Manusia berharap tapi Tuhan yang berkehendak. Segera kuambil air wudhu dan melakukan sholat dua rakaat di malam hari untuk mendapatkan ketenangan serta petunjuk  dari Nya.

Selanjutnya….

Hati ini perlahan tenang bersamaan dengan detak jarum jam yang menunjukan pukul delapan pagi, waktu di mana paman akan datang lagi, dan benar saja dia datang kembali.

“Bagaimana, sudah dapat jawabannya?” tanya Paman Toni.

“Sudah, Paman. Aku memutuskan ikut dengan Paman” jawabku dengan hati yang belum terlalu yakin.

Berat memang untuk memutuskannya tapi aku sadar sebagai seorang anak laki-laki aku harus bisa menjadi andalan keluarga, dan mungkin ini cara untuk menjadi seseorang yang dapat diandalkan.

Dua hari kemudian Paman datang menjemputku dengan sebuah mobil van warna hitam persis dengan mobil-mobil penculik di film Hollywood. Pikiranku seketika kacau ketika hendak pergi.

Ya mungkin karena aku harus pergi meninggalkan desa kecil penuh kenangan, apalagi aku harus meninggalkan teman-teman seperjuangan, bahkan aku pun harus meninggalakan orangtuaku untuk waktu yang cukup lama.

Tak kusangka di dalam sudah ada beberapa remaja yang dikumpulkan oleh Paman, terlintas pikiran konyol, Jangan-jangan, Paman Toni benar-benar penculik seperti di film-film, gumamku di dalam hati.

Orang-orang ini sangat asing dan dari wajahnya terlihat kurang ramah sehingga membuatku mengurungkan niat untuk berkenalan.

Mesin mobil mulai hidup dan siap meraung-raung di jalanan menuju Kota Bandar Lampung yang berada di seberang sana.

Aku pun tak tahu apa dan bagaimana kota Bandar Lampung itu, ya karena ini pertama kalinya aku keluar dari desaku menuju ke tempat yang jauh khususnya ke Bandar Lampung.

Perasaan sedih dan kacau yang awalnya menyelimuti hati ini perlahan hilang bersamaan angin yang berhembus dari jendela mobil yang kubuka.

Karena suasana mulai membosankan ku beranikan diri untuk berkenalan dengan mereka semua. Ternyata mereka adalah anak-anak dari desa tetangga, dan ternyata keadaan desa mereka tak jauh beda dengan desaku.

Mereka pun sama sepertiku ini awal bagi mereka merasakan rasanya keluar dari desa.

Baca Juga: Pulau Pisang Pesisir Barat, Pulau Lampung Penuh Pesona

Sepanjang jalan kami bertukar cerita dan sesekali Paman Toni menjelaskan tentang kota yang kami tuju, sekolah, dan juga fasilitas yang kami dapatkan selama merantau.

Kami sangat merasa beruntung karena mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup bisa menunrut ilmu di kota orang.

Apa lagi bagi kami kumpulan anak desa yang rata rata tak memiliki mimpi untuk bisa menuntut ilmu di luar desa.

Berjam-jam perjalanan sudah terlewati, mobil kami telah memasuki lambung kapal yang bersiap menyeberangi Selat Sunda. Ini pertama kalinya aku merasakan naik kapal dengan jarak yang cukup jauh.

Berdebar jantung ini terombang-ambing di tengah lautan, ternyata bukan hanya aku yang merasakannya tetapi semua teman-temanku merasakan hal yang sama.

Selanjutnya Contoh Cerpen Pendidikan…

Terlihat wajah pucat penuh rasa gelisah terpancar dari wajah mereka.

 Kami pun mulai merasa tenang ketika mengetahui bahwa kapal kami sebentar lagi akan bersandar. Suasana sesak mulai terasa ketika perlahan para penumpang bersiap turun.

Kami mulai memasuki mobil untuk melanjutkan perjalanan. Kami pikir perjalanan kami tak terlalu jauh lagi tapi ternyata kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 4 jam.

Lelah rasa tubuh ini, di sela-sela rasa lelahku hadirlah rasa rindu akan orangtuaku yang baru saja aku tinggalkan, tak terasa air mata mulai menggenang di kelopak mata dan mulai membasahi pipi.

Wajah mereka selalu terbayang, hingga akhirnya aku sampai di tempat yang kami tujuan.

Tapi… sepertinya ini bukanlah tempat yang kami bayangkan sebelumnya, sebelumnya kami membayangkan asrama yang kami tempati lebih bagus dari ini, bukannya panti asuhan seperti ini.

Tapi ya apa boleh buat karena hari semakin gelap kami pun berusaha untuk segera menyesuaikan diri di sini. Ruangannya tak terlalu bersih karena kebanyakan penghuni panti ini adalah anak anak kecil.

Bangunannya terletak persis di pinggir jalanan kota yang tak pernah sepi akan kendaraan. Suasana yang sangat asing bagi kami semua.

Setelah kami selesai dengan barang-barang bawaan kami, Paman Toni segera mengumpulkan semua anak-anak dan para pengurus panti dan mengenalkan kami satu persatu, dimulai dari Aldi si Pintar, Rudi yang gagah, Joko si humoris, Eko yang mudah terbawa perasaan, dan terakhir ada aku, Budi.

Baca Juga: 7 Cara Menghilangkan Ngantuk Berat di Dalam Kelas

Di antara mereka semua mungkin hanya aku yang sangat religius, oleh karena itu ketika aku mendengar bahwa besok kami semua akan mendaftar di sekolah yang berlatarbelakang ilmu agama akulah yang paling bersemangat.

Sebelum istirahat aku pun memberanikan diri untuk keluar dan menyusuri jalanan kota dan berhenti di sebuah halte tak jauh dari panti.

Bukan tanpa alasan aku keluar di malam ini, aku hanya ingin menenangkan diri setelah beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini.

Sambil menenagkan diri aku memperhatikan orang-orang sekitar, nada bicaranya yang tinggi dan suara tawanya yang lepas ditambah lagi sorot mata yang tajam membuatku makin tak nyaman berada disini.

“Orang Lampung memang seperti itu, nada bicaranya tinggi, tatapan matanya tajam,” suara seseorang yang tiba-tiba memecah lamunanku.

“Tapi tenang saja, mereka bukan orang jahat, kok. Jika mereka orang jahat pasti mereka sudah di penjara, bukan di sini. Iya, kan. Hehe…” sambung orang tersebut dengan nada bercanda.

Aku menoleh ke arahnya, ternyata itu Paman. Aku pun tertawa dengan keras ketika membayangkan betapa konyolnya wajahku ketika tadi suara paman membuatku terkejut.

Itulah tawaku yang pertama di hari ini. Dengan senyum yang lebar dia mengajaku untuk kembali ke panti dan beristirahat.

Suasana pagi disini sangat jauh berbeda dari daerah asalku, di mana pagi hari di sana penuh ketenangan dan di sini penuh kebisingan khas perkotaan.

Kini aku harus fokus untuk mendaftar dan lulus tes penerimaan siswa baru. Dengan teliti aku menyusun berkas-berkas yang telah aku siapkan sebelum berangkat. Tak satupun dokumen penting yang lepas dari pengawasanku.

Tak lupa soal-soal yang telah kupelajari kumasukan ke dalam tas. Aku tak ingin gagal dalam tes penerimaan siswa baru ini.

Karena aku sudah cukup banyak berkorban untuk sampai di sini, dari meninggalkan orang tua sampai membiasakan diri dengan suasana di sini.

Baca Juga: Cara Menjadi Juara Kelas, Kayak Mana? Ikuti Tips Berikut

“Hah!! Ini sekolahannya???” aku dan beberapa temanku benar-benar terkejut. Lagi-lagi di luar apa yang kubayangkan sebelumnya. Kami membayangkan sekolahnya besar dan megah.

Tapi ternyata, ya hanya bangunan yang tak terlalu besar namun terlihat modernorang-orang kota menyebutnya dengan kata minimalis. Memang keadaan bangunan ini lebih bagus dan kokoh daripada bangunan sekolahku dulu.

Dari pintu kaca terlihat anak-anak berkerumun menatap kearah kami. Di sudut lain ada juga anak-anak yang berkerumun namun tak saling sapa dan dugaanku merekalah calon teman sekelasku nanti.

Benar saja kami semua dikumpulkan di satu ruangan bertuliskan “Penerimaan Siswa Baru”.

Dari kejauhan terlihat seorang pria yang melemparkan senyuman kepada kami semua. Ternyata itu adalah kepala sekolah kami.

Pak Ahmad namanya. Dia lah salah satu pelopor yang menggagas ide untuk mendatangkan kami ke sekolahannya ini.

Beliau berharap walaupun sekolah yang dimilikinya tidak terlalu besar tapi dapat berguna untuk orang banyak.

Jujur aku sangat mengidolakan sosok seperti Paman Toni dan Pak Ahmad ini, berjiwa sosial yang sangat tinggi, peduli dengan orang lain.

Apapun yang mereka miliki selagi bisa untuk membantu mengakat derajat hidup orang lain pasti akan mereka berikan.

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, terus terbayang dengan kampung halaman membuat Eko memutuskan untuk pulang ke desanya.

Ya memang hidup penuh dengan pilihan dan itulah yang dia pilih. Namun dengan kesabaran dan ketekunan nasibku sangat berubah drastis ketika aku dipindahkan ke Rumah Tahfidz.

Di sana aku dapat lebih fokus menghafal Al-qur’an tanpa gangguan dari anak-anak panti yang lain. Di sini pun aku diberi amanah untuk mengajar anak-anak mengaji.

Nasib Rudi dan Aldi pun ikut berubah, ketika Rudi mulai aktif dikegiatan beladiri ia pun dipindahkan ke Asrama atlet karena dia akan dilatih untuk mengikuti kejuaraan tingkat propinsi yang akan diadakan bulan depan.

Baca Juga: Tips Move On Paling Ampuh Untuk Pria Wanita

Hal serupa juga dialami Aldi, dia terus mendapatkan latihan-latihan soal untuk mengikuti Olimpiade Siswa Nasional.

Joko masih konsisten dengan sifat humorisnya yang dapat menghibur anak-anak panti asuhan untuk meringankan beban hidup mereka yang tak lagi memiliki keluarga.

Namun nasib kurang beruntung menimpa Eko, menurut kabar yang kuterima ia kini menjadi seorang kuli bangunan setelah pulang ke desanya.

Memang bukanlah hal yang buruk menjadi kuli bangunan tapi ketika dia dapat sedikit bersabar menahan semua rasa gelisah, aku yakin dia akan berhasil.

Kami semua merasakan hal yang sama, menjalani fase sulit namun tetap berbaik sangka akan rencana Tuhan.

Aku sangat bersyukur, aku dapat dipertemukan dengan dua sosok pahlawan dalam hidup ini, Paman Toni dan juga Pak Ahmad.

Dua orang yang memiliki rasa tanggung jawab untuk membuat hidup orang lain lebih baik. Memiliki rasa kemanusiaan yang kini kurasa tak banyak orang yang memilikinya.

Ya, tak banyak orang yang merelakan sebagian hartanya untuk membantu orang lain. Aku pun berharap aku bisa menjadi seperti mereka dan juga banyak orang yang dapat mengikuti jejak mereka di kemudian hari.

Menjadi seorang yang mampu merubah apa yang seharusnya berubah.

Kini itu semua telah berlalu, dan tak kusangka giliranku sekarang untuk melanjutkan tugas mereka sebagai relawan kemanusiaan, yang peduli dengan nasib orang yang terdekat hingga yang terjauh, yang ada di desanya hingga di seberang samudera sana.

Orang yang merelakan dirinya untuk dapat memanusiakan manusia. Dan kini aku merelakan diriku untuk menjadi relawan yang dapat membuat banyak perubahan besar di negeri ini dimulai dari desaku.

****

Itulah beberapa contoh cerpen pendidikan yang bisa kita ketahui. Semoga bermanfaat. Terimakasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *